Goresan Cah PGSD
Minggu, 29 September 2013
Papercraft, Pajangan nyentrik dari kertas
mungkin beberapa orang masih belum familiar dengan kata "Papercraft", sebenarnya papercraft itu sebangsa origami (seni melipat kertas dari Jepang itu tuh...) tapi dengan pengembangan sehingga jadi bentuk tiga dimensi nya, jadi lebih kereen...
coba bandingin kedua hasil melipat kertas di bawah ini (origami kiri, papercraft kanan) :
lebih hidup yang papercraft kan?
naah, belakangan ini papercraft sudah jadi hobi banyak orang, mulai dari yang anak-anak sampe yang udah oom-oom (termasuk mahasiswa kaya nae gan). Karena selain mengasyikan, dan hasil nya bagus, ini bisa dijadiin ladang bisnis gan, termasuk ane juga sih...hheee. Bisnis di bidang papercraft bisa berupa jualan pattern (modelnya) atau juga yang udah jadi bahkan udah dikemas rapi pake mika (biar keliatan lebih elite gitu). kaya yang ane pernah buat ini gan
atau yang udah di box mika
sebenernya bukan cuma itu sih, masih banyak model-model lainnya, mulai dari bangunan-bangunan kaya Tugu Jogja, Menara Eiffel, Menara Pisa, trus tokoh-tokoh kartun, sampai pesawat-pesawat terbang juga ada. biasanya sih ane jual yang udah box itu mulai dari Rp 30.000 (tapi tergantung model ma tingkat kesulitan).
nah yang berminat menekuni hobi papercraft ayo gan ikutan bikin, tapi kalo pengen punya tapi ga sempet bikin bisa pesen ane (sekaliyan iklan)... nah kalo minat bisa hubungi ane via email di dreaming.kaezer@gmail.com
Kamis, 27 Desember 2012
Strategi Pembelajaran : MIX Learning, terkesan kolot tapi efektif
Mustahil
bagi suatu bangsa untuk bisa menjadi bangsa yang maju dan besar apabila
tidak memberi perhatian besar terhadap pendidikan. Pendidikan begitu
sangat penting hingga dijadikan pondasi bagi negara- negara dalam
melangsungkan dan menunjukkan keberadaannya di pergaulan dunia
internasional, khususnya negara maju yang menjadikan pendidikan sebagai
modal utama dalam mewujudkan cita- cita bangsanya. Perlu kita sadari
betapa pendidikan itu mahal. Artinya bukan biaya ataupun uang yang harus
dihabiskan untuk bersekolah. Karena saya meyakini uang yang dihabiskan
untuk bersekolah tidak bisa menandingi betapa luar biasanya arti dan
ilmu yang kita dapatkan dari pendidikan untuk membangun karakter dan
jiwa masyarakat. Nilai dan peranan pendidikan bagi masyarakatlah yang
memiliki arti dan manfaat luar biasa, bahkan bila dibandingkan dengan
bidang- bidang lain seperti politik maupun ekonomi. Hal ini disebabkan
dalam pendidikan ditanamkan dan diberikan pengajaran berupa ilmu
pengetahuan dan modal untuk menghadapi tantangan kehidupan dari berbagai
ilmu - ilmu yang dipelajari di sekolah.
Demi mewujudkan bangsa yang
besar, pemerintah indonesia pun melakukan sebuah aturan, yaitu “wajib
belajar 9 tahun”. Dengan adanya wacana tersebut, pemerintah Indonesia
berusaha untuk meningkatkan pendidikan bagi anak bangsa agar setidaknya
mereka mengenyam bangku sekolah selama 9 tahun.
Selain wacana
tersebut di atas, pemerintah juga mengadakan perombakan pada proses
pembelajaran dengan mengacu pada “student center”. Proses pembelajaran
dengan model student center ini diharapkan bahwa peserta didik dapat
berpikir sendiri atas materi pelajaran sehingga mereka dapat merasakan
kebebasan dalam cara mereka mengetahui materi, mandiri, dan meningkatkan
kreativitas mereka. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan pikiran mereka akan memberikan dampak positif, yaitu siswa
akan mendapatkan rasa percaya diri karena guru memberikan kesempatan
dan mereka merasa dihargai.
Namun, pendidikan di Indonesia yang
telah menggunakan metode student center ini belum mendapatkan hasil yang
maksimal. Hal ini dikarenakan anak-anak Indonesia masih sedikit yang
memiliki semangat untuk mencari kebenaran dan keberanian mereka
mengungkapkan gagasan. Permasalah yang muncul adalah siswa tidak bisa
memanfaatkan kesempatan mereka untuk menggali lebih dalam segala
informasi yang ada, dan hanya mengandalkan informasi dari guru.
Diperparah lagi dengan tidak adanya tuntutan kepada siswa untuk
mengetahui suatu materi dengan cara mereka mencari sendiri, sehingga hal
ini makin menambah buruk pendidikan anak.
Berbeda situasi saat
pendidikan dahulu yang menuntut para siswa untuk menghafalkan materi dan
jika mereka tidak bisa menghafalkan materi tersebut akan dikenai
konsekuensi yang berat bagi mereka. Dengan adanya ancaman tersebut maka
siswa mau tidak mau akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari
terkena hukuman. Dengan metode tersebut dapat mencetak siswa-siswa yang
handal dalam mengingat materi.
Berkiblat dari pendidikan jaman
dahulu (metode hafalan) dan dikombinasikan dengan pendidikan jaman
sekarang (metode student center) maka kami akan menyusun sebuah strategi
yang dapat mengatasi permasalah siswa saat ini. Strategi ini diberi
judul “mix learning”. Dengan strategi ini maka siswa diharapkan dapat
dengan lebih mudah memahami materi yang disampaikan guru.
Mix Learning adalah sebuah strategi yang kami ciptakan dengan menggabungkan Active Learning, Quantum Learning, dan Cooperative Learning.
Berikut
langkah-langkah pelaksanaan Mix Learning:
1. Membentuk kelompok-kelompok yang heterogen dengan cara membagi tiga
macam kertas yang memiliki warna yang berbeda-beda, missal warna merah,
kuning, dan hijau. Tiap kelompok dipimpin oleh seorang siswa yang
ditunjuk oleh guru. Pemimpin kelompok memiliki tugas membagikan sub-sub
materi yang harus dihafalkan oleh kelompok tersebut kepada masing-masing
anggotanya.
2. Materi yang akan dihafal oleh siswa nanti
disampaikan dahulu oleh guru, namun materi yang disampaikan adalah
materi yang masih bersifat umum.
3. Semua kelompok diberi kesempatan untuk menghafalkan materi yang diberikan oleh guru dalam waktu yang ditentukan.
4. Setelah waktu atau kesempatan menghafal selesai, diadakan kuis yang
bersistem pengumpulan poin. Tiap kelompok maju ke depan siswa lainnya
untuk menyampaikan materi yang telah dihafalkannya tadi. Criteria yang
dinilai antara lain adalah kelengkapan materi, keruntutan materi,
kelancaran berbicara, penguasaan materi, kreatifitas dalam menyampaikan
materi, dan keberanian siswa. Namun, dalam kesempatan kali ini, tiap
kelompok cukup menyampaikan apa yang telah mereka hafalkan saja.
5.
Sebagai tugas rumah, tiap kelompok harus mencari referensi atau media
apapun yang bisa digunakan untuk memudahkan siswa lainnya memahami
materi yang mereka sampaikan dengan hafalan.
6. Untuk pertemuan
berikutnya, tiap kelompok menyampaikan kembali hafalan materi yang
disampaikan pada pertemuan sebelumnya dengan menggunakan media atau
alat-alat yang telah dipersiapkan di rumah.
7. Setelah semua
kelompok menyampaikan materinya, guru menilai semua aspek yang akan
dinilai. Kemudian guru mengumumkan pemenang dan memberikan reward untuk
kelompok yang mendapat nilai terbaik.
8. Namun, guru juga harus
memberikan reward kepada semua kelompok meskipun berupa pujian agar
semua siswa merasa berhasil atas usaha keras mereka.
9. Guru menyampaikan kesimpulan materi.
( inovasi oleh mahasiswa PGSD UNY angkatan 2009 dalam rangka Liga Inovator )
Langganan:
Postingan (Atom)



